Selasa, 20 Juni 2023

Topi veteran

Persiapan 17 Agutusan nih. 
Di parade 17an kadang banyak yg memakai kostum tentara veteran. Salah satu outfit yg mesti dipunyai yaitu topi veteran
Di mana belinya? Saya gak jual topi ini. Kamu bisa klik link ini atau tulisan yg ada garis biru di bawahnya. 
Happy parade!

Senin, 19 Juni 2023

Taehyung dan bucket hat-nya

Pesona grup BTS (Bangtan Sonyeondan) atau Bangtan Boys sangat luar biasa dan membuat saya terkenang masa muda ketika tergila-gila dengan artis idola di masa itu. Tahun 90an saya nge-fans penyanyi, salah satunya Richard Marx. Sekarang jamannya Kpop, sekarang jamannya BTS. Anak-anak saya kerap menyanyikan lagu Kpop dan saya gak paham. 😀 Kalau drakor, saya kadang-kadang nonton terutama di masa pandemi.

Saya tergabung dalam komunitas merajut dan teman-teman perajut sedang demam apa-apa yg berkaitan dengan BTS. Salah satunya topi ember atau bucket hat yang dikenakan oleh Taehyung, salah satu personil BTS. Jadi saya ikutan bikin dan tentu saja cari tahu tentang BTS dan ARMY, sebutan untuk fans BTS. 

Orang Korea termasuk personil BTS ternyata suka memakai bucket hat semacam ini. Saya juga suka tapi karena jaman saya muda dulu, yg pakai bucket hat biasanya aktivis (politik) kampus atau pencinta alam. Tapi sekarang sudah banyak ibu2 modis pakai bucket hat yg tentu saja lebih feminin.

 ini saya sewaktu jadi relawan membersihkan candi Borobudur pasca letusan gunung Merapi tahun 2010. Saya pakai bucket hat untuk melindungi rambut dan mata dari cahaya matahari.

Dan yg serunya lagi, Taehyung pakai topi rajut. Di Indonesia, cowok2 mana mau pakai topi rajut, kecuali cowok2 yg anti mainstream

Jadi, saya pun bikin bucket hat rajut yang dipakai Taehyung ini. Kebetulan ci Yunita Cece Titi menawarkan WSO bucket hat ini. Langsung daftar, bayar dan masuk kelas hari itu juga. Super kilat karena sudah pengen merajut topi ini. 

Berhubung tidak punya benang polythick, saya pakai benang policheri dobel, yang ternyata bikin tangan cepat cape karena .... dobel. 😀😀😀 butuh ekstra tenaga untuk merajutnya. Hasilnya cantik. Tapi perjuangannya juga lumayan.

Karena penasaran dan belum pernah pakai benang polythick, saya pesan benang polythick secara online via Shopee  dan pas datang, benangnya sama dengan policheri tapi lebih tebal. Ya iyalah. Policheri digolongkan benang D18, sedangkan polythick digolongkan D30. Jangan tanya saya artinya. Saya ngikut yg ngerti benang seperti guru rajut saya dan yg jualan benang saja. 😀

Horreeee, benang polythick-nya-nya sudah datang dan langsung saya rajut. Seperti policheri, benang polythick ini ringan dirajutnya. Sebentar saja saya sudah bbrp row. 😀😀😀
Ditunggu ya hasil jadinya. Kalau mau pesan, juga boleh. Mau warnanya sama dengan Taehyung atau kombinasi warna lain, yg hasilnya cantik dan keren juga, juga boleh. Hubungi saya di 0812 8115 0858, ibu Pipit. Pengiriman dari Jakarta. Order dibuat maksimal 3-7 hari, tergantung banyaknya pesanan. 

Yuukkk, ditunggu ya orderannya.
Borahae. 💜💜💜

Kue muffin dan Dehan


Punya bahan2 kue sejak Idul Fitri lalu, drpd rusak, bebikinanlah. Saya suka coklat dan kue dari coklat. And I love muffin much tapi malas naruh adonan muffin satu satu ke dalam kertas cetakannya. Jadi saya tuang saja adonan ke loyang dan dikukus. Yg penting rasanya enak dan gak bantet. 
Ada cerita di balik bahan2 kue yg dibeli ini. Tadinya saya mau jualan kue kering di bulan Ramadhan tapi kok males ya promosi dan bikin sampel. 

Minggu kedua Ramadhan ada teman yg mau jadi caleg di sebuah partai minta ditemani pendaftaran dan pengurusan dokumennya. Jadi kami wara wiri ke sana kemari termasuk ke kantor DPP partai tsb juga ke dapilnya di Kuningan, Jawa Barat. Minggu keempat, masih ada dokumen yg belum selesai tapi instansi pemerintah sudah libur Idul Fitri. Jadi kami istirahat dari urusan ini dulu. Kalau begitu saya jadi punya waktu untuk bikin kuker, minimal untuk diri sendiri. 

Hari Senin dapat kabar kalau anak kami yg di Jogja masuk ICU, krn plasentanya bermasalah. Cukup panik karena bbrp hari menjelang Idul Fitri, tiket KA ke Jogja pasti sudah habis dari dua bulan lalu. Jadi kami hanya berdoa dari Jakarta dan memantau perkembangan via WA yg dikirimkan oleh menantu kami. 
Hari Rabu si bayi lahir selamat dgn operasi caesar dan prematur krn baru berusia 7 bulan lebih bbrp hari. Hari Idul Fitri ibu dan anakpun terpaksa dihabiskan di RS. Bbrp hari kemudian si bayi sudah boleh pulang. Ibunya sudah pulang duluan. Alhamdulillah.
Akhirnya, baru bisa nengok cucu di Jogja minggu lalu. Bayi prematur itu, Dehan, sudah tumbuh dgn baik dan sehat. Alhamdulillah. 
Dan bahan2 kuenya baru kepegang lagi. 😀😀😀

Senin, 26 Oktober 2020

CORONAVIRUS - The situation in Myanmar

 


CORONAVIRUS - The situation in Myanmar

1. General condition

Since the number of the local transmission and positive cases are increasing a lot these days not only in metropolitan cities like Yangon but also in other Regions and States (especially in Rakhine State), the government urges people to stay at home as much as possible,  in social distancing, to wear the masks when going out. But most of the production factories for essential sectors such as foods are still in operations with close supervision and with prevention measures.

The updated news can be checked at Myanmar’s Ministry of Health and Sports: https://www.mohs.gov.mm/ .

2. Preventive measures

Myanmar government has been taking precautionary measures to control and limit the risk of the spreading the corona virus in Myanmar:

  • In case of urgent official missions or compelling reasons, foreign nationals, including diplomats, United Nations officials and international investors who wish to travel to Myanmar by available relief or special flights, need to contact the nearest Myanmar Embassies for possible exception with regard to certain visa restrictions. However, all visitors must abide by existing directives issued by the Ministry of Health and Sports relating to the prevention and control of the COVID-19 pandemic.
  • According to the announcement of government on September 7 2020, all the travelers to Myanmar (through relief flights) need to stay 14 days of facility quarantine after arriving into Myanmar.
  • Domestic flights are currently suspended their operations until October 31 3030.
  • Public transport is still operating and the Express Bus Transportation reduce the number of passengers to half (i.e one person in two seats ratio).
  • According to the notification of Ministry of Health and Sports on August 16 2020, gathering of five people and above are restricted and all social events are postponed or cancelled until the making further announcement.
  • It is compulsory wearing of face masks and in social distancing in public.
  • All government and private schools, universities and entertainment centers are closed. Restaurants are only available in take-away system according to the announcement on September 6 2020.
  • The curfew was imposed from 24:00 to 4:00 in big cities but Sittwe city in Rakhine State is under the curfew from 21:00 to 4:00 and under stay at home program because of the big outbreak according to the announcement of the MOHS on August 25 2020.
  • The Government has announced Yangon (except Coco Township) under stay at home program since September 21 2020 and some townships of the other Regions and States (Mon State, Mandalay Region, Bago Region and Ayeyarwaddy Division) under this program since September 25 2020. 
  • All private cars and trucks from Yangon in Yangon-Mandalay Highway need to do health check and require COVID-19 free certificate that is valid for two weeks from the date of testing.

Sources:     

3. Exit strategy

  • The confirmed cases are increasing rapidly day by day and local transmission outbreak was happened again after the one month of disappearing local transmission on August 25, 2020. So, the government imposed the preventive measures to control the situation.   
  • The risk of community transmission remains still high due to the rainy season and its flu season combination with COVID-19 symptoms.
  • Physical distancing of 6 feet outside the home (including on public transport), and at work.
  • Health services operate as normally as possible.
  • Because of the increasing rapidly the positive cases and local transmissions in Myanmar, most of the private offices are swift to Work From Home system and some use partially shift-based system.

4. Economy

a. Economic impact

By the World Bank, Myanmar’s GDP decreased around 2-3% by COVID 19. People in poor conditions are impacted by the loss income and negative impacts of the economy. The three sectors raised by the Union Myanmar Federation Chambers of Commerce and Industry are tourism, Cut-Make-Package (CMP), and Small-Medium-Enterprises (SME), are in high vulnerability. Banking sector will also come under pressure. According to the World Bank, the net profits of private banks went negative for the first time in a decade as their ability to lend at a profit is severely limited by high interest rates required by the Central Bank of Myanmar.

Eurocham Myanmar conducted a survey to some European businesses in Myanmar to measurer by the impacts of COVID-19. More than 60% of the respondents claim that they are either significantly or moderately affected. Small and medium companies would be the most impacted and automotive, FMCG, retail and manufacturing are sectors at the frontline. While 34% of the respondents answered that the recovery from the impacts of COVID 19 will depend on how the supply chain across all industries will react, another 51% of the respondents estimate a recovery within 6 months.

According to the telephone survey results of The Asia Foundation, they found that businesses had laid off on average 16% of their employees during this pandemic and about 64% of the businesses are expected to face with the cash flow problems. So, the share of the businesses’ latest loans are increased to 51% in the survey from 25% in before pandemic. The profitability may take longer to recover even though the activities are back to normal due to the falling income will hurt consumers’ demand.

b. Trade barriers

Botst u buiten de EU op handelsbelemmeringen of andere problemen op het vlak van markttoegang? Laat het ons weten via handelsbelemmering@fitagency.be. Wij analyseren uw aangifte en maken die via de geijkte kanalen over aan de bevoegde instanties.

c. Measures for economic relaunch

The country also has experience recovering from severe shocks such as Cyclone Nargis in 2008 and floods and landslides in 2015. Back then, the apex authority under the National Natural Disaster Management Committee was activated to oversee response and recovery plans. So, the Myanmar economy can relaunch quickly after the Covid-19 pandemic even though most of the SMEs are affected badly.

d. Economic outlook

The COVID-19 situation cause an overall slowdown in Myanmar’s economy and its trading partnering countries.  Cancellation of Events and Expos, cancellation of orders from clients, tourism projects, delay payment and financial transactions, logistics and supply chain disruptions, raw material and equipment shortages, foreign employees leaving the country, are unusual manners that hit to the business operations. The Confederation of Trade Unions of Myanmar (CTUM) said that 16 factories have shut down in Myanmar. There will have more factories, will shut down during the Covid 19 outbreak. But the Magwe Regional Government has allowed more than 1000 factories out of 4000 to reopen after inspections were carried out in Magwe Region on May 22.  Moreover, The currency exchange rate has also become volatile. In February, Myanmar Central Bank purchased US$ 6 million in a move to ease the exchange rate volatility.

e. Short term opportunities

On March 18, the Government of Myanmar announced that the 2 percent advance income (withholding) tax on exports will be waived until the end of this fiscal year. A COVID-19 Fund worth MMK 100 billion (US$70 million, 0.1 percent of GDP) has been established at the Myanmar Economic Bank to provide soft loans to affected business (particularly the priority garment and tourism sectors and SMEs) at reduced interest rates. Starting April 20, 2020 the customs department has reduced duties for businesses operating with the Myanmar Automated Cargo Clearance System. The Ministry of Planning, Finance and Industry and Japan International Cooperation Agency (JICA) will provide Kyat 64 billion in funds to micro, small and medium enterprises (MSMEs) and the maximum amount of loan for each business will be Kyat 300 million (a yearly interest rate will be 5.5% to 10.%). Under the government’s Economic Relief Plan (CERP), the government raised the loan amount to 200 billion MMK to 500 billion MMK to be disbursed before the end of the year and the total more than 2000 SMEs have already received the low-interest loan until now.  

f. Long term opportunities

The Myanmar Investment Commission-MIC approved 11 new projects on April 3, 2020 in the manufacturing, construction and other services sectors with investments of over US$555 million and over K 51 billion. The investment includes expansion of capital by 13 existing projects .Myanmar Investment Commission has systematically approved the labor intensive projects to create 3,200 job opportunities to minimize the impact of workers on the effects of COVID-19. Having the cheaper labour and government incentives to promote the foreign investment,  garment sector will be an arena to look at.

5. Useful links

6. Dossier Coronavirus

Het coronavirus heeft een wereldwijde impact, niet alleen op de gezondheid maar ook op de economie. Ook uw export kan hiervan gevolgen of zelfs hinder ondervinden.

FIT monitort de risico's dagelijks en ons buitenlands netwerk informeert u over alle implicaties voor Vlaamse exporteurs op hun internationale activiteiten.

In het dossier Coronavirus vindt u een aantal nuttige tips, adviezen en inzichten in de economische impact van de verspreiding van het virus op internationaal ondernemen.

Met vragen over internationaal ondernemen in tijden van Corona, kan u terecht bij exportadvies-corona@fitagency.be.

21 oktober 2020




Sabtu, 04 Agustus 2018

Peluncuran dan Bedah Buku Hari-hari Terakhir Bersama GusDur


Pers Rilis Peluncuran dan Bedah Buku Hari-hari Terakhir Bersama GusDur
Museum Nasional, Rabu, 25 Juli 2018

Langkah Perjuangan Demokrasi

“… Seperti kepada sahabat dekatnya, Abdullah Syafei’ie secara terbuka mengemukakan kegelisahannya sebagai orang Aceh. ‘Sejak jaman kolonial Belanda, kami tidak pernah merdeka!’ katanya dengan nada mengeluh sekaligus memprotes. ‘Tapi kenapa kita harus terlibat konflik?’ saya balik bertanya, mengajukan apa yang ada dalam pikiran. …” Itulah sepenggal kisah dalam buku Hari-hari Terakhir Bersama Gus Dur karya Bondan Gunawan.
Masih segar dalam ingatan, bagaimana Bondan sebagai Pjs Sekretaris Negara (Sesneg) menemui Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 16 Maret 2000. Pertemuan itu ia tempuh untuk melakukan pendekatan kemanusiaan kepada sesama anak bangsa yang tidak puas terhadap pemerintah pusat.
Kisah pertemuan Bondan dan Abdullah Syafei’ie tersebut memang sudah beredar di media cetak dan televisi. Namun, kita kali ini bisa melihat lebih rinci latar belakang tersebut diluncurkan dalam sebuah acara sederhana di Museum Nasional, Rabu malam, 25 Juli 2018. Acara peluncuran yang bertajuk “Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi untuk Indonesia Raya”, menghadirkan dua pembicara, yaitu Prof. Dr. Mochtar Pabottingi dan Dr. Yudi Latief.
Buku tersebut sebenarnya menceritakan kisah persahabatan Bondan dan Gus Dur yang berjibaku merintis tegaknya demokrasi di Indonesia. Tidak terbayangkan, dua sahabat ini – bersama beberapa rekan mereka – berinisiatif dan memprakarsai berdirinya Forum Demokrasi (Fordem) tahun 1991. Mereka seperti kumpulan “orang aneh” yang mengambil opsi untuk melawan kekuasaan rezim Orde Baru Soeharto. Menurut F. Rahardi, yang menulis Kata Pengantar buku ini, Fordem merintis keberanian berpikir, berserikat, berkumpul, dan mengemukakan pendapat di negeri ini.
Memang perjuangan berdemokrasi telah muncul jauh sebelum Fordem berdiri dalam sikap 50 orang yang secara frontal berseberangan dengan Orde Baru melalui Petisi 50. Namun, Petisi 50 secara spesifik mengoreksi kebijakan Presiden Soeharto, gerakan yang berbeda dengan Fordem. Fordem menentang arus besar penyeragaman berpikir, yang secara massif diterapkan sebagai sarana depolitisasi di negeri ini pada era kekuasaan Soeharto.
Dengan demikian, buku yang muncul pada momen 20 tahun Reformasi di negeri ini menjadi pelengkap atas puzzle perjuangan menegakkan demokrasi. Demokrasi di Indonesia pasca Reformasi bukan hal yang tiba-tiba saja mewujud. Persahabatan Bondan dan Gus Dur yang dalam perjalanannya membidani lahirnya Fordem merupakan rintisan perjuangan ke arah demokrasi di negeri ini. “Kiprah Pak Bondan di Fordem sangat berpengaruh sebab dia memiliki pandangan yang tajam, seimbang dan sehat mengenai demokrasi yang harus diimplementasikan di Indonesia. Dia peka terhadap deviasi-deviasi kepicikan seakan-akan antara agama dan kebangsaan harus memilih,” tulis Romo Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, S.J., dalam salah satu komentarnya terhadap buku karya Bondan ini.
Persahabatan Bondan dengan Gus Dur telah menorehkan rintisan demokrasi di negeri ini. Bondan – yang berlatar belakang “abangan” dan aktivis pergerakan – berkolaborasi dengan Gus Dur yang lahir dari kehidupan “santri”, yang didasari tradisi intelektualitas kuat. Dua elemen ini saling mengisi dan memberi warna. Tidak mengherankan jika keduanya memiliki kesamaan visi penghormatan terhadap martabat kemanusiaan, kepedulian yang besar kepada golongan minoritas, dan elan perjuangan untuk menempatkan semua warga negara berkedudukan sama di muka hukum. Perjuangan dua figur yang membidani lahirnya Fordem ini dilihat F. Rahardi sebagai jejak-jejak perintis.
“Sebagai perintis, nasib Fordem memang seperti semua perintis, akan mati atau dilupakan setelah yang diperjuangkan tercapai. Bondan sempat sebentar ‘mencicipi’ masuk ke dalam pemerintahan, tetapi segera dihajar kiri kanan, lalu tersingkir,” tulis Rahardi dalam Kata Pengantar. “Nasib perintis memang hanya berada di kawasan tandus, saat tanaman lain belum ada. Dalam kaitan dengan demokrasi, keterbukaan, dan penghargaan terhadap HAM, Bondan dan Gus Dur punya andil sangat besar dimulai pada saat merintis gerakan melalui Fordem,” lanjut Rahardi.
Momen 20 tahun Reformasi – tepatnya pada Mei lalu – menjadi saat yang baik untuk merefleksikan potongan-potongan kisah bagi kondisi bangsa kita dewasa ini. Secara pribadi, Bondan mengungkapkan bahwa banyak cerita muncul dan beredar, yang masih berkabut hingga saat ini. “Yang jelas,” ungkap Bondan, “saya dan Gus Dur menolak segala akitivitas yang dikemas atau bisa ditafsirkan secara konspiratif. Kami berdua saling meyakini bahwa banyak hal yang ada di hadapan kita, sebenarnya dapat dielaborasi, dicari titik temunya dalam proses keterbukaan. Prinsip transparansi menjadi begitu penting dalam proses mencari kesepahaman ini.”  
Proses mencari titik temu bersama itulah yang hingga kini dinilai Bondan sebagai hal yang harus diperjuangkan dalam kehidupan bersama. Huru-hara dan ribut-ribut yang tidak bermutu sudah banyak menghiasi media kita, mempertontonkan banyak sandiwara yang hanya merugikan bangsa dan negara ini. Menurut Bondan, momen kali ini menjadi saat yang tepat untuk merefleksikan perjuangan kita sebagai bangsa selama ini, sembari memberi bekal bagi generasi muda.
“Sebagai orang muda, sudah selayaknya dipahami bahwa bentuk-bentuk kegiatan bersama demi kepentingan yang lebih besar itu pasti penuh resiko dan tidak jarang berbuah cemooh. Namun, tercapainya sesuatu yang kita pikirkan sebagai tujuan yang lebih besar dan luhur, dibanding pujian dan kenikmatan yang bersifat sesaat, harus kita perjuangkan. Jangan pernah lelah!” tegas Bondan. Dia melanjutkan bahwa para pemimpin mestinya harus rela dan berani untuk tidak populer demi tercapainya maksud baik bagi semakin banyak orang, bagi saudara saudari satu tumpah darah.
Pesan tersebut muncul dan seolah menjadi kristalisasi pengalaman Bondan yang hanya sebentar membantu terlibat di puncak pemerintahan pada era Gus Dur. Meskipun demikian, Bondan tetap hidup biasa-biasa saja. Padahal, banyak akitivis yang gagal lalu frustrasi, kemudian berubah dari pemberi solusi menjadi bagian dari masalah. Namun, Bondan justru tidak banyak omong dan tidak terlalu popular menjadi langganan media, walaupun banyak informasi penting yang bisa digali dari sumber ini. Hal ini dirasakan oleh Gunretno, Koordinator Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) yang banyak belajar dari Bondan. “Ketika itu, saya terkejut melihat di televisi yang menayangkan pak Bondan mengundurkan diri sebagai menteri untuk mempermudah penyidik memeriksanya karena tuduhan korupsi. Sebuah keputusan sangat berani karena tak  semua orang bisa legawa. Sampai sekarang, mana ada pejabat publik yang berani mengundurkan diri jika belum divonis pengadilan?” jelas Gunretno yang masih terus berjuang bersama masyarakat Kendeng hingga kini.
Buku karya Bondan yang diluncurkan ini mengisahkan perjuangannya bersama Gus Dur di luar pemerintahan. Meskipun hanya sebentar di dalam pemerintahan karena dihantam kiri-kanan, kiprah mereka meninggalkan banyak kemajuan bagi kebaikan bersama di negeri ini. Pergaulan mereka dengan berbagai elemen sesama anak bangsa dari aneka latar belakang, menyemaikan benih-benih semangat persaudaraan sejati yang bisa kita nikmati hingga kini.
Dua sahabat ini memiliki sebutan untuk masing-masing yang khas. Bondan bersama beberapa rekan seperjuangannya berhasil menyematkan julukan istimewa bagi Gus Dur sebagai ‘Guru Bangsa’. Sementara itu, Gus Dur menyebut Bondan sebagai “banteng yang berkeliaran di mana-mana, di luar habitatnya” – sebagai kiasan bahwa dialah seorang nasionalis, Marhaenis, atau Soekarnois yang bergerak di luar organisasi resmi kaum nasionalis. Bahkan, ketika berkunjung ke Israel, Gus Dur memperkenalkan Bondan di forum internasional sebagai seorang Soekarnois dan tokoh klandestin pelanjut pemikiran Soekarno di zaman pemerintahan rezim Orde Baru Soeharto.
Suatu ketika, Gus Dur pernah mengatakan kepada Bondan bahwa karena dirinya mendalami dan memahami kitab kuning, dia (dan para kyai NU) percaya bahwa “setiap masalah selalu ada jalan keluarnya. Betapapun rumitnya, selalu bisa dicarikan solusinya, tetapi bukan menyederhanakan masalah.”
Inilah yang merujuk pada nilai-nilai ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah. Menurut Gus Dur, itulah sebabnya dalam konteks nasional, pemuka-pemuka Islam di Indonesia memilih NKRI sebagai negara-bangsa (nation state) yang mengutamakan wawasan serta pendekatan kebangsaan dan bukan negara Islam!

Terkait refleksi kebangsaan tersebut Bondan menandaskan bahwa di Indonesia, tidak pernah terjadi pergantian kekuasaan secara radikal! “Ketika terjadi instabilitas politik,” tegas Bondan, “tak pernah ada presiden yang ingin mempertahankan kekuasaan dengan segala cara, misalnya membenarkan diri lalu memenangkan konflik horizontal.” Menurut refleksinya, presiden Indonesia berusaha menyatu dengan rakyatnya. Itulah yang terjadi pada Soekarno. Sebaliknya, tidak pernah ada percobaan kudeta secara radikal yang didukung, lalu dibenarkan oleh rakyat.”Inilah salah satu keutamaan kita sebagai bangsa yang besar.”

Oleh karena itu, melakukan reformasi pada hakikatnya berarti melakukan pemurnian.  Dikaitkan dengan momen 20 tahun Reformasi di Indonesia, gerakan reformasi – di satu pihak – muncul sebagai reaksi berupa penolakan terhadap berbagai penyimpangan, kekeliruan, penyalahgunaan wewenang, yang berakibat korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) pasca pemerintahan Orde Baru. Sedangkan di lain pihak, reformasi merupakan upaya memasuki era baru untuk membenahi dan mengembalikan sistem dari negara kekuasaan menjadi negara kesejahteraan yang berkeadilan sosial. “Maka, demokrasi politik saja tidaklah cukup, harus ada demokrasi ekonomi. Inilah demokrasi Indonesia yang sesungguhnya. Harapan saya, kita – terutama generasi muda – dapat bersama-sama bergandengan tangan menciptakan demokrasi politik dan demokrasi ekonomi bagi Indonesia Raya,” demikian Bondan Gunawan. (*)

Sabtu, 16 September 2017

Asal Usul Nama Tempat Di Jakarta

ASAL USUL NAMA TEMPAT / DAERAH DI JAKARTA

Jakarta merupakan Ibu Kota yang punya banyak cerita, legenda.
Salah satu nya tentang sejarah dari beberapa nama2 daerah berikut ini :

1. Glodok

Asalnya dari kata grojok yang merupakan sebutan dari bunyi air yang jatuh dari pancuran air. Di tempat itu dahulu kala ada semacam waduk penampungan air dari kali Ciliwung. Orang Tionghoa dan keturunan Tionghoa menyebut grojok sebagai glodok karena orang Tionghoa sulit mengucap kata grojok seperti layaknya orang pribumi.

2. Kwitang
Dulu di wilayah tersebut sebagian tanah dikuasai dan dimiliki oleh tuan tanah yang sangat kaya raya sekali bernama Kwik Tang Kiam. Orang Betawi jaman dulu menyebut daerah itu sebagai kampung si Kwitang dan akhirnya lama-lama tempat tersebut dinamai Kwitang.

3. Senayan

Dulu daerah Senayan adalah milik seseorang yang bernama Wangsanaya yang berasal dari Bali. Tanah tersebut disebut orang2 dengan sebutan Wangsanayan yang berarti tanah tempat tinggal atau tanah milik Wangsanayan. Lambat laun akhirnya orang menyingkat nama Wangsanayan menjadi Senayan.

4. Menteng

Daerah Menteng Jakarta Pusat pada zaman dahulu merupakan hutan yang banyak pohon buah-buahan a.l. pohon buah menteng. Orang menyebut wilayah tersebut dengan nama Kampung Menteng. Pada tahun 1912 dibeli pemerintah Hindia Belanda utk lokasi perumahan pegawai pemerintah Hindia Belanda, maka daerah itu disebut Menteng.

5. Karet Tengsin

Nama daerah yang kini termasuk kawasan segitiga emas kuningan ini berasal dari nama orang Cina yang kaya raya dan baik hati. Orang itu bernama Tan Teng Sien. Karena baik hati dan selalu memberi bantuan kepada orang-orang sekitar kampung, maka Teng Sien cepat dikenal oleh masyarakat sekitar dan selalu menyebut daerah itu sebagai daerah Teng Sien. Pada saat itu dilokasi tsb banyak pohon karet, maka daerah itu dikenal dengan nama Karet Tengsin.

6. Kebayoran

Kebayoran berasal dari kata kebayuran, yang artinya “tempat penimbunan kayu bayur”. Kayu bayur sangat baik untuk dijadikan kayu bangunan karena kekuatannya serta tahan terhadap rayap.

7. Lebak Bulus

Daerah yang terkenal dengan stadion dan terminalnya diambil dari kata “lebak” yang artinya lembah dan “bulus” yang berarti kura-kura. Jadi lebak bulus dapat disamakan dengan lembah kura-kura. Kawasan ini memang kontur tanahnya tidak rata seperti lembah dan di kali Grogol dan kali Pesanggrahan- dua kali yang mengalir di daerah tersebut-memang terdapat banyak sekali kura-kura alias bulus.

8. Kebagusan

Nama kebagusan, daerah yang menjadi tempat hunian mantan presiden Megawati, berasal dari nama seorang gadis jelita, Tubagus Letak Lenang. Konon, kecantikan gadis yg keturunan Kesultanan Banten ini membuat banyak pemuda ingin meminangnya.
Agar tidak mengecewakan hati pemuda2 itu, ia akhirnya memilih bunuh diri. Sampai sekarang makam itu masih ada dan dikenal dengan nama Ibu Bagus.

9. Ragunan

Berasal dari Wiraguna, yaitu gelar yang di sandang tuan tanah pertama kawasan tersebut bernama Hendrik Lucaasz Cardeel, yg diperolehnya dari Sultan Banten Abunasar Abdul Qahar, putra Sultan Ageng Tirtayasa.

10. Pasar Rumput

Dulu, tempat ini merupakan tempat berkumpulnya para pedagang pribumi yang menjual rumput. Para pedagang rumput terpaksa mangkal di lokasi ini karena mereka tidak diperbolehkan masuk ke pemukiman elit Menteng. Saat itu, sado adalah sarana transportasi bagi orang-orang kaya sehingga hampir sebagian besar penduduk Menteng memelihara kuda.

11. Paal Meriam

Asal usul nama daerah yang berada di perempatan Matraman dengan Jatinegara ini berasal dari suatu peristiwa sejarah yang terjadi sekitar tahun 1813. Pada waktu itu pasukan artileri meriam Inggris yang akan menyerang Batavia, mengambil daerah itu untuk meletakan meriam yang sudah siap ditembakan. Peristiwa tersebut sangat mengesankan bagi masyarakat sekitar dan menyebut nama daerah ini paal meriam (tempat meriam disiapkan).

12. Cawang

Dulu, ketika belanda berkuasa, ada seorang letnan Melayu yang mengabdi pada kompeni, bernama Ence Awang. Letnan ini bersama anak buahnya bermukim di kawasan yang tak jauh dari Jatinegara. Lama kelamaan sebutan Ence Awang berubah menjadi Cawang.

13. Pondok Gede

Sekitar Tahun1775, Lokasi ini merupakan lahan pertanian dan peternakan yang disebut dengan Onderneming. Di sana terdapat sebuah rumah yang sangat besar milik tuan tanah yang bernama Johannes Hoojiman. Karena merupakan satu-satunya bangunan besar yang ada di lokasi tersebut, bangunan itu sangat terkenal. Masyarakat pribumi pun menjulukinya “Pondok Gede”

14. Condet Batu Ampar dan Balekambang

Pada jaman dahulu ada sepasang suami istri, namanya Pangeran Geger dan Nyai Polong, memiliki beberapa orang anak. Salah satu anaknya, perempuan, diberi nama Siti Maemunah, terkenal sangat cantik. Pangeran Astawana, anak pangeran Tenggara atau Tonggara asal Makassar pun tertarik melamarnya. Siti Maemunah meminta dibangunkan sebuah rumah dan tempat peristirahatan diatas empang, dekat kali Ciliwung yang harus selesai dalam satu malam. Permintaan itu disanggupi dan menurut legenda, esok harinya sudah tersedia rumah dan sebuah bale di sebuah empang di pinggir kali Ciliwung. Untuk menghubungkan rumah itu dengan kediaman keluarga pangeran Tenggara, dibuat jalan yang diampari (dilapisi) Batu. Demikian menurut cerita, tempat yang dilalui jalan yang diampari batu itu selanjutnya disebut batu ampar, dan bale (balai) peristirahatan yang seolah-olah mengambang diatas air itu disebut Balekambang.

15. Buncit

dulunya di jalan buncit raya sekarang ada pedagang kelontong China berperut gendut (Buncit) yang terkenal.

16. Bangka

dulunya di sana banyak ditemukan mayat (bangke/bangkai) orang yang dibuang di kali krukut.

17. Cilandak

Konon di sana pernah ditemukan seekor landak raksasa

18. Tegal Parang

Konon dulu disana banyak di temukan alang-alang tinggi (tegalan) yang di potong dengan parang (golok).

19. Blok A/M/S

dulunya sekitar situ tempat pembukaan perumahan baru yang ditandai dgn blok, mulai A-S. Sayang yang tersisa tinggal 3 blok saja.

20. Kampung Ambon

Berlokasi di Rawamangun, Jakarta Timur, nama Kampung Ambon sudah ada sejak tahun 1619. Pada waktu itu JP Coen, Gubernur Jenderal VOC menghadapi persaingan dagang dengan Inggris. Untuk memperkuat angkatan perang VOC, Coen pergi ke Ambon dan merekrut masyarakat Ambon untuk dijadikan tentara. Pasukan dari Ambon yang dibawa Coen itu kemudian diberikan pemukiman di daerah Rawamangun, Jakarta Timur. Sejak itulah pemukiman tersebut dinamakan Kampung Ambon.

Sumber :  http://kamarloteng.blogspot.co.id/2011/01/asal-mula-nama-tempat-di-jakarta-kaskus.html

Kamis, 11 Agustus 2016

Obat peluruh batu urine

Sejak hari Senin kemarin (8/8/2016) saya merasa sakit ketika buang air kecil. Ketika periksa ke dokter, saya harus cek urine dulu agar dokter dapat memberikan obat yang tepat. Ternyata sedimen lekosit saya cukup tinggi.10-15, sedangkan batas normal adalah 0-3, atau 5 x dari batas normal. Dalam bahasa orang awam, ada pasir di kandung kemih saya. Ini yang bikin pipis menjadi tidak lancar dan terasa nyeri. Aduuuh, pasir saja sudah bikin sakit apalagi kalau sudah jadi batu ya.
Salah satu obat yang diberikan dokter adalah Nephrolit. Obat ini membantu meluruhkan batu urin di saluran kemih serta membantu melancarkan buang air kecil. Saya dilarang minum kopi, teh dan suplemen energi. Harus dan wajib minum air putih sebanyak2nya. Makin sering pipis, makin bagus, karena pasir yg luruh akan cepat keluar dari kandung kemih.Obat lainnya adalah Amoxicilin dan Asam Mefenamat.
Alhamdulillah, setelah minum obat-obatan ini nyeri saat buang air berkurang, air pipis lancar dan keluar banyak. Kemarin2 buang air kecil berulang-ulang, sedikit yg keluar, dan nyeri sekali. 
Wish me luck!


Saya langsung teringat kalau pada bulan September 2015 lalu, saya juga mengalami hal yang sama yaitu sulit pipis karena banyaknya kadar lekosit dalam urine saya. Tapi saat itu dokter tidak menjelaskan terlalu banyak dan pantangan ini dan itu. Mungkin karena saat itu fokus utamanya adalah menghilangkang penyakit tipes saya, yang membuat saya harus dirawat selama 5 hari di rumah sakit. Wah, artinya dalam waktu satu tahun, pasir dalam urine saya sudah terbentuk lagi. Ini berarti, saya harus semakin berhati-hati dalam mengkonsumsi makanan dan minuman karena sudah punya kecenderungan pembentukan pasir dalam kandung kemih saya.

Kamis, 14 Juli 2016

Labu air menggerus penyakit pancaroba

Musim pancaroba membawa sejumlah penyakit musiman: badan meriang (panas dingin), batuk-batuk kering dan hatsi-hatsi. Kegiatan ini cukup mengganggu kegiatan sehari-hari. 
Menjelang musim pancaroba seperti ini saya biasanya mengintensifkan minum vitamin C, minum jamu kencur pada si mbak jamu yang keliling kampung (jamu kencurnya saja ya, bukan jamu beras kencur), minum Adem Sari, minum Tolak Angin cair atau minum air perasan jeruk nipis dicampur air hangat dan madu. Jika sudah terkena penyakit pancaroba ini dan minum suplemen di atas, biasanya saya akan sembuh dalam beberapa hari ke depan. 
Beberapa waktu lalu, ada teman yang menyarankan saya untuk minum air parutan labu air dan madu. Katanya lebih joss. Dan saya mencobanya. Pulang mengajar sore saya langsung mampir ke pasar tumpah Pesing. Ada yang jual labu air, satunya Rp 6.000,-. Pulangnya setelah makan malam saya makan buah pepaya dan menyingkirkan buah labu air tersebut. Toh pepaya juga punya khasiat mendinginkan tubuh. Tapi malam harinya saya tidak bisa tidur karena terbatuk-batuk, dada sakit sekali. Jadi ngantuk-ngantuk dan lelah karena batuk pun saya bangun dan memotong buah labu air tersebut seukuran 10 cm. Sisanya saya dirikan di piring, supaya tidak terganggu serangga. 
Labu air dan madu sachet

Labu air saya kupas lalu saya parut dan saring. Dapat setengah gelas. Madu botol di rumah sedang habis, jadi saya aduk-aduk tempat stok makanan. Alhamdulillah, masih punya stok madu dalam sachet. Saya buka dan campurkan dengan air parutan labu air tadi dan diaduk-aduk lalu langsung minum. Beberapa menit kemudian saya berbaring lagi dan tertidur. Nyenyak betul. Dada (daerah bronkhea) tidak terasa panas lagi, adem, dan tidak batuk-batuk lagi. Alhamdulillah. 
Besok paginya, saya mau memarut lagi, tapi tidak sempat, karena hari Kamis saya mengajar jam 8 pagi, tidak ada waktu lagi. Sepagian saya masih batuk tapi sudah berkurang daripada hari sebelumnya. Pulang mengajar di siang hari, saya memarut labu air sisa kemarin dan melakukan ritual yang sama. Alhamdulillah, dada dan daerah bronkhea makin adem dan tidak gatal lagi. Tapi nafas masih panas sebagaimana layaknya orang demam. Jadi saya perbanyak minum air putih dan saya kompres bagian muka khususnya hidung dengan saputangan yang sudah dibasahi air. Malamnya saya ke dokter untuk mengurusi pergelangan tangan kanan yang bengkak berbulan-bulan dan pulangnya cukup malam, jadi tidak sempat memarut lagi. Tapi dada sudah lebih adem. Pagi ini saya mau habiskan sisa labu air segar tadi, supaya penyakitnya pergi tuntas tas tas. 
Semoga bermanfaat. 

Kamis, 07 Januari 2016

Bergaji dollar siapa takut, siapa yang tidak mau

Satu cita-cita saya yang sudah kesampaian adalah bergaji dollar dan kerja di luar negeri. Saya menjadi pemantau pemilu internasional sejak tahun 2009 hingga terakhir tahun 2014 kemarin. Gajinya kebanyakan dalam bentuk dollar. Paling asyik kalau memantaunya di daerah konflik, karena gajinya gede, tapi resikonya juga gede. 

Foto milik www.saibumi.com

Berhubung sekarang sedang menyelesaikan studi di S2 yang cukup menyita waktu dan energi, maka tawaran menjadi pemantau pemilu di luar negeri saya sisihkan dulu. Pilih uang atau pilih selesaikan kuliah. Toh, kalau sudah selesai kuliah, nanti kerjanya bisa lebih enak lagi dan gajinya bisa lebih besar lagi. 
Sekarang ini saya sedang menulis tesis, dan ada rindu juga ya untuk menerima gaji dollar. Untunglah ada Talk Fusion yang memberikan saya uang dollar tanpa saya harus pergi dari rumah saya. 

Ini link videonya: Talk Fusion.

Teknologi kan berkembang sangat pesat. Sehingga kita harus mengikutinya. Dan saat ini adalah musimnya video. Apa saja bisa di-video-kan, mulai dari pengajaran, rapat hingga jualan online. 

Kalau kita menggunakan facebook dan WA misalnya, yang berarti kita mempromosikan keduanya kita tidak mendapat bayaran, tapi membuat si pemiliknya makin kaya. Nah, kalau dengan Talk Fusion, kita menggunakan dan mempromosikannya, dan kita dibayar, dalam dollar pula. 

Wah MLM dong. Iya, tapi MLM gak berdosa kok. Karena semua penjualan di dunia ini adalah sebenarnya penjualan berjenjang. Bedanya dalam MLM, kita adalah sekaligus toko dan end usernya. Dan yang saya tawarkan di sini adalah teknologi yang palng canggih di saat ini yaitu video. 

Sudah gak jaman promosi ke orang-orang dengan mendatangi satu persatu. Dan juga orang sekarang lebih suka melihat video daripada melihat foto2. 

Apakah mencari partner usaha kita sulit? Yah tergantung. Kita cuma butuh dua orang saja kok yang butuh berpenghasilan dollar. Gede pula. Bayangkan mendapatkan uang 10.000 USD bisa dalam waktu sebulan bahkan seminggu. Kalau kerja kantoran biasa, berapa lama kita harus bekerja untuk mendapatkan uang tersebut. 

Kalau gak bisa ngomong atau mempresentasikannya bagaimana? Gampang. Kalau anda bergabung dengan saya, kita punya tim yang akan mewakili anda untuk bicara di depan teman anda atau prospek anda. Atau seperti saya ini, mempromosikan video saya di Talk Fusion. Video tersebut sudah bercerita tentang bisnis saya ini. Nanti orang yang tertarik dapat mengirim pesan ke saya langsung karena sudah disediakan formnya. 

YUk, mau bergaji dollar sekarang atau keduluan orang lain.... Pilihan di tangan anda. 


Selasa, 29 Desember 2015

Apa yang sudah saya lakukan dan dapatkan di tahun 2015?

Tahun 2015 ternyata tahun yang biasa saja buat saya, tidak terlalu istimewa meski ada beberapa progress.

Akademis
Tahun 2015 diawali dengan kuliah yang super padat. Ngos-ngosan dengan sekian critical review dan makalah untuk setiap mata kuliah yang diambil. Tapi saya menikmati kesibukan tersebut. Semester berikutnya, kuliah saya cuma dua yaitu LPIP dan Reading Course. Berarti ada banyak waktu luang, namun ternyata waktu saya sangat tersita untuk dua mata kuliah ini. Karena kedua mata kuliah ini menuntut banyak baca dan analisis. So, anytime anywhere saya harus membaca dan merangkum sejumlah bahan bacaan. Kuliah RC adalah membaca sejumlah buku terkait dengan calon tesis kita. Saya memilih "Power Interplay kelompok-kelompok kepentingan dalam rekrutmen kandidat distrik pada pemilu parlemen Jerman (Bundestag): Studi Kasus partai CDU di Berlin." 
Sebagian buku-buku yang harus baca untuk Reading Course saya 

Keren kedengarannya, tapi mabok cari referensinya. Harus cari buku tentang kelompok kepentingan Jerman, buku tentang rekrutmen kandidat, dan sistem pemilu Jerman. Studi tentang rekrutmen kandidat merupakan hal baru di Indonesia, karena itu belum banyak atau bahkan belum ada yang menulisnya. Sehingga buku referensi saya untuk Reading Course semuanya berbahasa Inggris. Mantap sekaligus mabok, ha ha ha. Dan meski ini adalah konsekuensi dari pilihan saya ternyata saya stres juga menghadapinya. Sehingga saya jatuh sakit. Saya belum tau nilai LPIP saya karena kemungkinan baru akan diberikan oleh dosen tanggal 4 Januari, bisa juga mundur. Dan RC saya belum juga selesai, karena saya belum mendapatkan point of view atas tulisan saya tersebut. Jadi, libur semester ini akan saya gunakan untuk mengejar ketertinggalan saya beberapa bulan terakhir ini. 
Target saya di bidang akademis di tahun 2016 ini adalah sidang proposal tesis di bulan Februari 2016, sidang tesis di bulan Juli-Agustus 2016 dan wisuda di akhir bulan Agustus 2016. Aamiin YRA. Gak mau lama-lama, karena saya ingin segera lulus dan bekerja di lembaga internasional.   

Bahasa Baru
Untuk tujuan itu juga, saya ambil kursus bahasa Arab selama tiga bulan di awal tahun 2015, lalu menghentikannya dulu karena kepadatan kuliah dan berjanji akan melanjutkannya setelah waktunya luang. Padahal pelajaran  bahasa Arab di tempat kursus tersebut berlangsung selama 12 bulan. Jadi dalam waktu setahun belajar di sana, saya tidak hanya mampu menguasai bahasa Arab tapi juga bisa menjadi pengajar bahasa Arab. Wah, keren banget kan. Sayangnya, saya tidak mampu. Pagi belajar bahasa Arab, siangnya saya harus kuliah dan membuat banyak tugas yang berarti harus banyak membaca buku perpolitikan dan tidak sempat mengulang pelajaran bahasa Arab apalagi mencari sumber pelajaran yang baru. 
Semester berikutnya ternyata saya belajar bahasa Perancis, karena peluang kerja sebagai pemantau pemilu di negara-negara berbahasa Perancis lebih terbuka daripada di negara-negara berbahasa Arab. Seorang teman dari Afrika yang bekerja di UN menawarkan saya pekerjaan memantau pemilu di Burundi, tetapi berhubung saya tidak menguasai bahasa Perancis maka tawaran tersebut melayang. Ya, tidak apa-apa, toh kuliah saya masih padat. Tapi ini menjadi sumber pengharapan buat saya dan memicu saya untuk belajar bahasa baru dan menyelesaikan kuliah saya.  

Kesehatan
I am staying in the hospital due to typhoid. This is is the first time in my life I stayed in the hospital. It took 5 days to cure the virus but I need 3 months to be in my usual health and strength.

Berdasarkan diagnosa dokter, saya terkena tipus dan radang akibat dehidrasi. Ini pertama kali saya dirawat di rumah sakit karena sakit. Tahun 1993, saya pernah dirawat di rumah sakit karena kecelakaan ditabrak mobil di depan kampus IKIP. 

Dikunjungi beberapa teman ketika di rumah sakit. 
Saya pilihnya RS Sari Asih Cileduk karena dekat dengan keluarga yang tinggalnya di sekitaran Cileduk. Saya sih tidak minta ditunggu, karena toh penyakit saya cuma demam, bukan yang parah sampai harus dibantu ini itu. Tapi paling tidak, kalau saya ada perlu, keluarga saya mudah datang. Sejumlah teman yang berlokasi di Cileduk datang mengunjungi. ALhamdulillah dan terima kasih. 
Dirawatnya cuma 5 hari, tapi pemulihannya sampai pada kondisi semula butuh waktu 3 bulan. Sepulang dari rumah sakit beberapa penyakit muncul yang bikin saya harus bedrest selama itu. Mulai dari sakit maag, anemia, darah rendah yang drop ampun-ampunan dan kemudian nyeri radang sendi di sekujur tubuh. Alhamdulillah, November tengah sudah agak enakan, sehingga saya bisa ke Kuala Lumpur untuk menhadiri pernikahan teman. Meskipun di sana kebanyakan tidur dan istirahatnya, kecuali pas di acara resepsi.  

Keuangan dan Pekerjaan 
Untuk masalah keuangan, saya tidak beruntung di tahun 2015 ini. Saya tidak bekerja selama tiga semester, tetapi memang saya sudah rencanakan. Karena saya ingin menikmati masa kuliah saya dengan hanya belajar dan belajar. Saya sudah lelah dengan bekerja sambil belajar atau belajar tapi selalu kekurangan uang seperti yang selama ini saya alami sejak masa SD hingga kuliah S1. Tapi ternyata ada pengeluaran lain yang tidak saya sangka-sangka yaitu pengeluaran dirawat di rumah sakit dan urusan XXX itu. Sehingga saya cukup ketar ketir dengan posisi keuangan saya saat ini. 
Target saya tahun 2016 ini adalah bekerja di pemantauan pemilu di luar negeri kembali. Mudah-mudahan misi di AF dapat berlangsung, karena saya mendapat kabar bahwa ada teman dari Filipina yang berangkat ke AF mudah-mudahan untuk meng-assess apakah misi jadi dilaksanakan atau tidak. 
Sudah tidak ada pemasukan ternyata investasi reksadana saya jebol semua. Pemerintahan Jokowi memang memble dalam urusan ketatanegaraan termasuk keuangan negara, ditambah lagi keadaan keuangan regional yang juga tidak bagus. Semua portofolio saya hancur, dan dengan uang yang tersisa untuk investasi saya belikan dollar, lumayan untuk mempertahankan keadaan kekuangan, bukan untuk mencari keuntungan. Tapi sekarang cadangan dollar sudah saya tukarkan semua karena berbagai kebutuhan.  
Saya mulai lagi bisnis online mainan pendidikan saya. Alhamdulillah sudah mulai jalan sedikit-sedikit. Dan dari hasilnya yang alon-alon asal kelakon sudah mampu membelikan saya tiket ke Kuala Lumpur tersebut. Jadi, jualan online memang harus saya harus seriusi di tengah-tengah padatnya membaca bacaan Reading Course dan penulisan tesis. 
Organisasi saya yang baru ForDE sudah selesai masalah legalitasnya dan sekarang sedang membuat buku tentang caleg perempuan. Kami juga sedang membuat program kerjasama untuk kunjungan ke DPR dan sejumlah pelatihan pendidikan politik. Semoga bisa berjalan sesuai rencana di tahun 2016 ini.  

Asmara
Alhamdulillah di tahun ini saya menemukan seseorang yang cocok dengan saya. Mudah-mudahan dia juga cocok sama saya. Karena saya orang yang keras dan petarung. Hidup saya sulit sejak kecil sehingga saya harus menjadi kuat dengan kemampuan saya sendiri dibantu jaringan pertemanan serta jaringan kerja yang sudah saya buat selama ini. 



Kemah Prodem, Agustus 2015
Saya bertemu dia di kemah aktivis Prodem di lereng Merapi Jogja Agustus 2015. Lucunya, teman-teman saya adalah teman-teman dia juga yang sudah kami kenal sejak bertahun-tahun. Hanya kami berdua yang baru kenal satu sama lain di saat acara tersebut. Meski demikian, banyak yang harus kami samakan, rencanakan, dan lakukan untuk melangkah ke tahap selanjutnya. Target tahun depan, tentu saja menikah, kalau kami berjodoh. Mohon doanya, ya.    

Selasa, 01 Desember 2015

Etiket gak boleh macet

Belajar tata krama (bahkan) untuk orang tua. 
Pagi ini sapu-sapu daun mangga tetangga yg masuk rumah (seperti biasa). Seorang anak tetangga mau pergi sekolah naik sepeda dan harus melewati tempat saya berdiri. Si ibu mengatakan, "Jalannya pelan-pelan, kalau nyenggol nanti disabet sama mbak Pipit." 
Saya diam saja dan langsung minggir. Si anakpun lewat ngeloyor tanpa berkata apa-apa. 
Kenapa si ibu tidak mengajarkan ke anaknya untuk belajar bilang permisi ketika ada orang yang menghalangi jalannya? 
Mungkin ini bisa menjawab kenapa makin lama makin banyak generasi muda yang tidak punya tata krama karena tidak diajarkan sejak kecil. Sulit sekali mengatakan 'permisi', 'tolong', 'terima kasih' dll. 
Saya menemukan generasi muda kelas menengah yang menerapkan tata krama seperti itu karena mereka belajar bahasa asing khususnya bahasa Inggris. Bule bilang ini, bule melakukan itu. Kan keren. Okelah, dari mana pun sumber referensinya, yang penting punya tata krama, ettiquette does matter.
Sekarang jaman internet, tapi etiket gak boleh macet. - Oppie Andaresta

Minggu, 09 Agustus 2015

7 Tips Meningkatkan Konsentrasi saat Menulis

7 Tips Meningkatkan Konsentrasi saat Menulis
Menulis adalah kegiatan yang membutuhkan konsentrasi. Rancangan kalimat yang sudah disusun bisa saja buyar saat ada gangguan dan akhirnya batal ditulis. Mengesalkan, kan? Ada banyak hal yang bisa mengganggu konsentrasi yang kita bangun saat menulis. Faktor tersebut bisa bersumber dari diri sendiri maupun orang lain.
Menjaga dan mengembalikan konsentrasi dalam waktu singkat serta tepat merupakan kemampuan yang harus dikuasai penulis. Sulit berkonsentrasi akan menghambat kemajuan naskah yang kamu kerjakan. Oleh karena itu, untuk menjaga konsentrasimu ada tujuh tip dari Michael Purdy ini yang bisa kamu terapkan.
1. Mengeliminasi gangguan sebelum mulai mengerjakan tulisanmu. Misalnya: email, twitter, HP, TV, dan lain-lain.
2. Selalu proaktif. Jangan menunggu mood datang. Ketika mendapat ide, tulislah. Bawalah catatan ke mana-mana. Jadi, ketika ingin menulis kamu bisa menorehkannya terlebih dahulu di sana.
3. Bangun suasana menulis yang kondusif. Rapikan meja tulismu. Hiasi dindingmu dengan kover buku, penulis, atau kutipan-kutipan favorit yang bisa memotivasimu. Temukan waktu terbaik untuk menulis. Seperti apa tempat atau waktu yang paling menginspirasimu menulis?
4. Buat deadline untuk tulisanmu. Proyek yang ujungnya tidak jelas akan lebih membuatmu lelah. Beri batas waktu pengerjaan naskahmu, tepati, dan selanjutnya kamu bisa pindah ke proyek menulis yang lain.
5. Berolahragalah secara teratur. Meski menulis terlihat sebagai pekerjaan yang tidak memeras keringat, justru di situlah tantangannya. Terlalu lama duduk dan memandang laptop bisa membuat tubuhmu lelah. Melakukan pemanasan sebentar bisa membuatmu duduk lebih nyaman. Berolahraga juga akan menghasilkan tubuh bugar yang bisa bertahan lebih lama ketika menulis.
6. Beri dirimu sendiri hadiah ketika mencapai target tertentu. Adanya hadiah bisa menjadi pemicumu untuk lebih sigap mengerjakan naskah.
7. Berubahlah. Ubah tempatmu menulis. Misalnya jalan-jalan ke sekitar rumah dan menulis di taman. Atau jika kamu biasa mengetik di laptop, cobalah untuk mengetik di buku tulis. Perubahan suasan bisa mengembalikan momen konsentrasimu yang sempat hilang, juga membuka persepsi baru atas cerita yang sedang kamu tulis.
Semoga bermanfaat!
Dari nulisbuku.com 

Kamis, 16 Juli 2015

Renungan di Malam Takbir 16 Juli 2015

Sejak menjelang Maghrib, mata saya berkaca-kaca. "Aduh, ini hari terakhir puasa. Besok lebaran". 

Saya bukan orang yang mendewa-dewakan bulan Ramadhan, meskipun saya tahu bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat penting. Tetapi toh waktu akan terus berjalan, setelah Ramadhan dan Idul Fitri, maka akan tiba waktu pergi berhaji, yang juga penting bagi umat muslim. Demikian juga waktu sebelum bulan Ramadhan. Kalau diperhatikan, semua bulan dalam kalender Hijriah punya keistimewaan. 


Dan saya bukan orang yang mengiyakan dan mengekor orang banyak. Banyak orang yang berkata atau minimal menulis di wall Facebook-nya mengenai penyesalan ketika Ramadhan berakhir. Jujur saja, saya tidak terkesan. Entah mereka menulis dari hati yang paling dalam atau hanya sekedar menunjukkan kesholehan. Kalau sholeh alhamdulillah, kalau sekedar ikut-ikutan atau supaya dibilang sholeh, itu urusan yang di atas. Bukan urusan saya. Urusan dan tugas saya adalah menjalankan kewajiban saya, berpuasa, sholat, memberikan zakat dsb, bukan mengurusi dan memikirkan pendapat orang lain. 

Setelah buka puasa untuk yang terakhir kali, saya pergi ke mesjid untuk menyerahkan zakat fitrah, zakat mal dan infaq shodaqoh. Saya mengeluarkan lembaran-lembaran uang. Dan saya kembali berkaca-kaca, hati saya meredup. Banyak sekali lembaran yang saya berikan kepada petugas zakat. Saya menulis ini bukan riya, bukan pamer, bukan sombong. Tapi saya terkejut sendiri. 

Lima tahun lalu, saya cuma menyerahkan uang untuk zakat fitrah dan infaq yang tak seberapa jumlahnya. Dua tiga tahun kemudian, nilai infaq saya bertambah. Tapi tahun ini, alhamdulillah. Saya teringat kata-kata ini, "Merugilah orang yang amalnya hari ini sama dengan hari kemarin. Celakalah orang yang amalnya hari ini lebih buruk dari hari kemarin." Sewaktu keadaan keuangan saya masih fluktuatif, saya bertekad bahwa tidak boleh begini terus menerus. Setelah berjuang sekian lama, alhamdulillah. Setoran infaq saya meningkat. 

Satu pendorong tekad saya adalah "Jika kamu bersyukur, pasti akan aku tambah (nikmat-Ku) untukmu" QS Ibrohim:7. Ya, saya bersyukur untuk setiap langkah yang saya dapatkan. Jika pun mengalami kemalangan, kegagalan, musibah, saya berusaha bersyukur. Saya mencoba menghindari kata "untung" dan menggantinya dengan kata "alhamdulillah". Meskipun kata "untung" juga bermakna positif. Jadi, daripada saya berkata, "untung saya selamat, untung cuma rugi 25 ribu." Saya berusaha menggantinya dengan, "Alhamdulillah, saya selamat". "Alhamdulillah, saya cuma rugi 25 ribu." 

Saya juga berusaha semakin ikhlas dan menjauhkan dari uang. Uang itu penting. Yang bilang uang itu tidak penting, berarti dia tidak pernah kekurangan uang dalam waktu yang lama. Tapi saya tidak mau terpaku dan terikat dengan uang. Dari dulu saya berprinsip, bekerja dulu, nanti uang akan datang menghampiri. Ya, dan itu terbukti. Saya selama ini bekerja di kepemiluan secara volunteer, dibayar sekedarnya. Karena saya memiliki pekerjaan yang lain yaitu mengajar, saya tidak memusingkan hal itu. Tapi lama kelamaan orang mengenal saya dan mempercayai saya dan membayar saya dengan bayaran yang makin lama makin lumayan. Bahkan lebih besar daripada profesi guru yang selama ini menghidupi saya. Alhamdulillah. 

Dan mata saya kembali berkaca-kaca, hati tersekat ketika membaca doa berzakat. Alhamdulillah, saya bisa naik pangkat di dunia. Mudah-mudahan nilai akhirat saya juga naik pangkat. 

Ramadhan telah berakhir, bulan Syawal tiba dan bulan Zulhijah akan datang. Kapankah kematian akan datang? Bekerja di daerah konflik yang tidak berjarak dengan kematian, membuat saya semakin sadar bahwa hidup hanya sementara, sangat sementara. Semenjak menandatangani "Surat tidak menuntut kalau terjadi kematian atau kecelakaan" dari organisasi yang mengundang saya ke daerah konflik di tahun 2009, saya makin berserah diri. Banyak yang bertanya, "Kamu tidak takut mati?" Tahun 1999, ada wartawan NHK yang bertanya ke saya tentang hal itu, saya masih bergidik. "Saya tidak takut mati, tapi saya belum banyak melakukan apa-apa. Sekarang, "Kalau memang takdirnya harus mati, ya mati. Itu sudah pasti. Dan itu bisa terjadi di manapun." 
Perpustakaan pribadi saya

Garis tipis kematian begitu dekat, ketika hotel kami diserang oleh kelompok militan pada malam Tahun Baru Afghanistan, 20 Februari 2014. Saya dan sejumlah teman meninggalkan tempat itu ke kamar masing-masing 15 menit sebelum kejadian. Meski demikian, seorang teman dari Paraguay, Luiz Maria Duarte, meninggal dalam kejadian itu. Beritanya bisa diklik di sini. Karena kejadian yang begitu cepat, saya hanya terpaku dan tidak menangis ketika mendengar laporan, "Luiz can't make it."

Juli 2014, surat tersebut bertambah lagi dengan "Pemberian hak waris dan penggunaan warisan ketika meninggal". Maka, saya pun harus merancang siapa saja dari keluarga saya yang berhak untuk mengajukan klaim asuransi jika saya meninggal di tempat tugas, dan masing-masing akan saya beri berapa persen.  Bekerja dengan bule, membuat saya berfikir semakin logis dan realistis. Termasuk mempersiapkan kematian, minimal urusan duniawi. 

Ketika berbelanja baju sekarang-sekarang ini saya berfikir, apakah saya perlu baju sebanyak ini? Ketika membeli buku yang merupakan barang favorit saya, saya berfikir, siapa yang akan mewarisi buku-buku saya jika saya meninggal nanti? Buku saya keren-keren, karena banyak yang dibeli di negara saya bertugas. Sayang sekali dan saya gak terima kalau buku saya nanti cuma dikilo-in. Karena itu saya mengambil keputusan, bahwa buku-buku tentang politik akan saya berikan kepada Perpustakaan Ilmu Politik UI, tempat saya kuliah S2. Insya allah akan banyak bermanfaat, karena sebagian buku-buku saya tidak dijual di Indonesia. 

Takbir berkumandang dari pengeras suara mesjid. Persiapan sholat Ied sudah disiapkan, supaya besok tidak telat sholat Ied. Selamat Hari Raya Iedul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin. Semoga puasa kita sebulan di bulan Ramadhan menjadi penghapus dosa-dosa yang telah kita perbuat. Aamiin YRA.